Minangkabau merupakan salah satu basis Islam di Sumatera. Adat Basandi ,Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, yang berarti Adat Bersendikan Syariat dan Syariat Bersendikan Al-Qur’an, merupakan bukti tak terbantahkan soal ini. Walau demikian, sampai awal abad ke-19 masih saja banyak orang Minang yang gemar sabung ayam, mabuk-mabukan, dan judi. Hal ini menimbulkan polemik antara Tuanku Koto Tuo, seorang ulama tua, yang lebih memilih jalan lunak dan koperatif soal kerusakan akhlak masyarakat ini, dengan murid-muridnya, terutama Tuanku Nan Renceh yang radikal. Tiga ulama Minang yang barn pulang dari Mekkah yang membawa paham Wahabi yang puritan mendukung Tuanku Nan Renceh. Mereka adalah Haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari Delapan Kota, dan Haji Piobang dari Lima Puluh Kota.
Akhirnya rnasjid dan surau-surau dengan tegas menyerukan agar umat islam Minang kembali ke jalan Islam yang benar dan meninggalkan kebiasaan buruk itu. Kaum Adat menantang para ulama ini dan bahkan menggelar pasta sabung ayam yang dipenuhi arak dan judi di Kampung Batabuh. Konflik pun terjadi. Para ulama yang berpakaian putih-putih disebut kaum Paderi, sedangkan kaum adat berpakaian serba hitam.
Untuk meredakan kontlik, Tuanku Pasaman dari Paderi berusaha berunding dengan Kaum Adat. Perundingan terjadi di Koto Tangah, dihadiri Raja Minangkabau Tuanku Raja Muning Alamsyah dari Pagaruyung. Perundingan berjalan pangs dan berubah menjadi pertempuran. Raja Muning Alamsyah yang berpihak ke kaum adat melarikan did ke Kuantan, Lubuk Iambi. Bahkan pada 1818, raja ini meminta bantuan kafir Inggris untuk menghadapi kaum Paderi namun ditolak oleh Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto yang berkedudukan di Kalkuta. Melalui “TractatLondon”, Inggris menyerahkan wilayah Barat Sumatera pada Belanda.
Hal ini menjadikan kaum adat berpaling ke Belanda. Pada 10 Februari 1821, Tuanku Suruaso dengan 14 penghulu Adat bersekutu dengan Residen Du Puy. Belanda mengerahkan tentara dan dua meriam untuk menggempur kota Simawang. Pertempuran pecah, kini antara Kaum Paderi melawan persekutuan antara kaum Adat dengan kafir Belanda. Kaum Paderi memusatkan kekuatan di Benteng Bonjol yang dibangun Daruk Bandaro. Muhammad Syabab alias Peto Syarief, yang kemudian dikenal sebagai Imam Bonjol, ditunjuk memimpin benteng tersebut. Pertempuran sengit terjadi dan memakan banyak korban dan waktu yang lama (1821-1837). Peperangan sedikit mereda saat di Jawa Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda rang berlangsung dari tahun 1825 hingga 1830. Setelah Perang Jawa berakhir, Belanda kembali memusatkan kekuatannya di Sumatera.
Kaum Paderi kian lama bertambah kuat. Apalagi banyak tokoh adat yang kemudian insyaf dan bergabung dengan barisan Paderi. Berbagai perjanjian dibuat namun selalu dikhianati Belanda. Bantuan bear-besaran didatangkan dari Batavia dan akhirnya pada 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol direbut Belanda. Tuanku Imam Bonjol dijebak dengan penawaran damai. Beliau ditangkap pada 28 Oktober 1837 dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Lalu dipindah ke Ambon, lulu ke Manado, dan akhirnya wafat di sana pada 6 Nopember 1864.
sumber: eramuslim digest, edisi 9
